Kalimantan Barat, Kayong Utara – (19/5/2026) Potensi kekayaan alam perairan Kabupaten Kayong Utara, khususnya di wilayah Desa Harapan Mulia, Kecamatan Sukadana klu,
sesungguhnya sangat besar dan menjanjikan. Hal ini terbukti dari hasil tangkapan ikan yang melimpah ruah yang diperoleh para nelayan setiap harinya. Namun di balik hasil laut yang berlimpah itu, tersimpan kepahitan dan keluhan yang tak kunjung terjawab selama bertahun-tahun.
Nelayan kini mulai mempertanyakan kinerja dua dinas terkait yakni Dinas Perikanan dan Dinas Perhubungan Pemkab Kayong Utara. Bahkan
meski sudah berganti beberapa kali kepemimpinan Bupati dan sudah banyak program pembangunan yang digembar-gemborkan, namun nasib ratusan nelayan kecil di sepanjang aliran Sungai Rantau Panjang ini masih sama saja, masih belum memiliki steher atau tempat tambat perahu yang layak dan resmi.
Beberapa foto yang diabadikan membuktikan betapa produktifnya wilayah ini. Terlihat jelas, perahu-perahu kecil milik warga penuh sesak berisi keranjang-keranjang besar berisi ikan segar yang berlimpah, hasil jerih payah mengarungi sungai dan perairan. Ikan-ikan itu melimpah seolah alam sangat dermawan memberi rezeki, namun perhatian pemerintah melalui instansi terkait seolah hilang entah ke mana.
Setiap hari, setelah lelah berjuang mencari ikan dan membawa pulang hasil yang melimpah itu, para nelayan tidak memiliki dermaga atau tempat berlabuh yang aman. Mereka terpaksa menambatkan perahu dan motor air miliknya sembarangan di pinggiran tepian Sungai Rantau Panjang, atau menumpang bertambat di bawah struktur Jembatan Rantau Panjang yang ada.
Kondisi ini berlangsung puluhan tahun, dari masa ke masa, tanpa ada perubahan sedikit pun,
yang kini menjadi pertanyaan besar masyarakat dimana peran dan tanggung jawab Dinas Perikanan serta Dinas Perhubungan Kabupaten Kayong Utara. Sebagai instansi yang secara langsung mengurusi kesejahteraan pelaku usaha perikanan dan prasarana transportasi di perairan, kedua dinas ini dinilai sangat lambat, bahkan seolah tidak peduli terhadap kebutuhan dasar warga Desa Harapan Mulia Padahal, pembangunan steher atau tempat tambat perahu adalah kewajiban yang seharusnya menjadi prioritas, karena berkaitan langsung dengan kelancaran distribusi hasil tangkapan dan keselamatan alat tangkap.
” Kami bertanya-tanya, apa kerja Dinas Perikanan dan Dinas Perhubungan selama ini, kami ini rakyat kecil yang menggantungkan hidup di sungai, kami yang hasilkan ikan untuk daerah ini, tapi kami tak pernah disentuh program nyata mereka. Kami inginkan wujud nyata cuma minta tempat sandar yang aman, itu pun tak kunjung didapat,” tegas salah satu perwakilan nelayan dengan nada kecewa.
Ketiadaan fasilitas ini merugikan ekonomi warga. Perahu dan alat tangkap sering rusak terhantam arus sungai deras saat air pasang atau surut, merugikan pendapatan mereka yang sebenarnya sudah pas-pasan.
Aspirasi yang disampaikan baik secara lisan maupun tertulis seolah tak pernah ditanggapi serius oleh kedua dinas tersebut maupun Pemkab secara keseluruhan, dari warga mempertanyakan, sampai kapan Dinas Perikanan dan Dinas Perhubungan menutup mata terhadap kondisi ini, sampai kapan kekayaan alam yang mereka hasilkan tidak dibarengi dengan pelayanan publik yang layak dan sampai kapan lagi mereka harus menunggu, meski pucuk pimpinan sudah berkali-kali berganti.
Hingga berita ini diturunkan, hasil laut terus melimpah, namun harapan para nelayan untuk memiliki tempat sandar yang layak masih terkatung-katung di tengah arus Sungai Rantau Panjang, sementara kinerja instansi terkait masih menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat. (Joni)









