LASEM – Kota Lasem yang dikenal sebagai salah satu kota tertua di Indonesia dengan kekayaan sejarah, kuliner, seni batik, serta keragaman budaya dan toleransi yang kental, kembali hidup dengan semangat kemerdekaan. Suasana kebersamaan terpancar kuat dari Desa Ngemplak, berkat rangkaian kegiatan meriah yang digagas oleh pemuda setempat sejak awal Agustus hingga puncaknya pada malam tirakatan.
Perkumpulan pemuda-pemudi “Pradipa 34 Kaplingan” menggelar serangkaian lomba dan acara kreatif yang berlangsung selama setengah bulan penuh. Kegiatan ini ditutup dengan puncak acara berupa tirakatan dan tasyakuran, lengkap dengan doa bersama untuk bangsa dan negara, pentas seni, jamuan makan bersama warga, parade busana anak, serta pembagian hadiah dan doorprize.
Ketua Pradipa 34 Kaplingan, Chila—siswa Kelas 1 SMA Negeri 1 Lasem yang masih sangat muda—menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun jiwa nasionalisme generasi muda serta mempererat tali persaudaraan dan cinta tanah air.
“Menghargai perjuangan dan memaknai kemerdekaan harus dimulai sejak dini, agar anak-anak dan remaja aktif menghidupkan desa. Ini menjadi momentum menjalin silaturahmi dan keakraban antarwarga, terutama sesama warga satu RT agar lebih dekat, di tengah kesibukan sehari-hari,” ungkap Chila.
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari semangat gotong royong warga yang mengumpulkan iuran sukarela, serta dukungan sponsor dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Rembang.
Sementara itu, Tyo yang merupakan Pembina pemuda di Pradipa 34 Kaplingan sekaligus Ketua Bidang Koperasi dan UKM KNPI DPD II Rembang, menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin tahunan warga dengan tema yang selalu diperbarui.
“Setiap tahun kami agendakan, namun tahun ini jauh lebih meriah karena berlangsung lebih lama, setengah bulan penuh mulai awal Agustus hingga malam tirakatan,” jelasnya.
Antusiasme warga Desa Ngemplak terlihat sangat tinggi. Mereka berbondong-bondong mengikuti lomba maupun menyaksikan rangkaian acara, menjadikan momen ini sarana melepas lelah setelah bekerja seharian serta mempererat keharmonisan di tengah kekayaan budaya Lasem yang tak pernah lekang oleh waktu.
( Suryono )








