SOLO – Bacawawali Solo yang juga Ketua Umum Yayasan Forum Budaya Mataram, Dr. BRM Kusumo Putro, SH., MH., menyebut kebutuhan pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana kesenian untuk kemajuan kota Solo sebagai Kota Budaya saat ini sangat dibutuhkan.
Kusumo beralasan selama beberapa dekade pembangunan di Kota Solo lebih banyak mengutamakan modernisasi jaman.
Baginya ruh Solo sebagai Kota Budaya seakan lenyap ditelan pembangunan kota metropolitan seperti saat ini.
“Pembangunan Infrastruktur yang sudah ada saat ini hanya menciptakan situasi kota yang adaptif dengan perkembangan zaman, akan tetapi kemajuan kota yang berbudaya tentu juga harus ditopang dengan sarana dan prasarana penunjang kegiatan seni budaya,” kata Kusumo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/7).
Ia menilai tanpa adanya keseimbangan infrastruktur sarana dan prasarana yang ada, Solo sebagai kota budaya hanya akan menjadi slogan saja.
Advokat kenamaan itu juga menyebut, sebagai punjer kota budaya khususnya budaya jawa di Nusantara, Solo memiliki kearifan yang di dalamnya berisi keragaman budaya, seni, adat dan tradisi. Melalui kearifan tersebut masyarakat di ajak memiliki kesadaran toleransi, saling menghargai keberagaman dan rasa kegotong royongan.
Sehingga dalam hal ini ia menekankan keseriusan dari pemerintah kota dan para stakeholder diperlukan untuk memegang teguh akar budaya yang ada.
Selain itu, menciptakan ruang lingkup berkegiatan seni budaya untuk mengembangkan potensi bakat dan kreatifitas masyarakat juga menjadi tugas Pemkot Solo.
“Semua tentu butuh sarana dan prasarana,” ujarnya.
Kusumo mengkhawatirkan jika tanpa sarana dan prasarana, lambat laun budaya yang ada di Solo akan hilang.
Sekali lagi ia menegaskan kebutuhan gedung kesenian yang baik dan berkualitas tentu harus menjadi prioritas, agar kemajuan pembangunan kota tetap mengedepankan wajah asli budayanya. Tentunya dengan tetap mempertahankan akar budaya yang ada, Solo akan menjadi Kota teladan yang berbudaya.
Lanjut Kusumo, teladan adalah contoh bagi pembangunan daerah lain di dalam mengikuti arah pembangunan kota dengan mengedepankan nilai kearifan yang ada di setiap daerah.
Meski diakuinya, pemerintah Kota Solo saat ini sudah membuka luas fasilitas kantor kelurahan dan kecamatan untuk kegiatan Masyarakat, akan tetapi hal tersebut tentu berbeda jika Solo memiliki sendiri gedung kesenian untuk berkegiatan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana.
“Minimnya infrastruktur sarana dan prasarana seperti gedung kesenian di kota Solo, tentu jadi kendala bagi upaya pelestarian budaya,” imbuhnya.
Kusuma berharap Pemkot dapat mewujudkan pembangunan gedung kesenian yang dalam hal ini tidak hanya ruang untuk menyalurkan bakat kreatifitas seni budaya, akan tetapi juga museum batik, galeri seni rupa, museum wayang dan infrastruktur budaya lainya. Sehingga dapat menjadi pusat edukasi seni budaya di Kota Solo.
Ia berargumen, jika pembangunan gedung dan galeri kebudayaan tidak hanya menggeliatkan potensi budaya masyarakat, namun juga akan menampilkan wajah asli Solo sebagai Kota Budaya.
(M,Zaen)








