Menu

Mode Gelap
Makorem Wijayakusuma Diserbu Anak TK, Ingin Dekat Dengan TNI nya

Komunitas

GMRI dan Posko Negarawan Ingin Menghadirkan Perawat Bangsa dan Negara Agar Tak Menjadi Puing Sejarah

badge-check


					GMRI dan Posko Negarawan Ingin Menghadirkan Perawat Bangsa dan Negara Agar Tak Menjadi Puing Sejarah Perbesar

Oleh Jacob Ereste

 

Jasa Pembuatan website Media berita

Banten, patrolinusantara.press – Yang bisa membenahi kerusakan negara yang carut marut hanyalah negarawan dengan dibantu oleh budayawan, agamawan dan seniman serta wartawan bersama ilmuwan yang berbasis spiritual yang kuat.

Basis spiritual bagi seorang negarawan sangat diperlukan untuk menjaga etika, moral dan akhlak sebagai pengusung kebaikan yang berlandaskan pada ajaran serta tuntunan para Nabi bersama manusia lainnya sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Kebaikan, ketulusan dan kejujuran untuk berbuat baik bagi kepentingan orang banyak — rakyat — untuk negara dan bangsa, hanya mungkin dilakukan oleh para negarawan yang paripurna sifat dan sikapnya yang terjaga oleh etik profetik (sikap dan sifat kebabian) sebagai  pembawa dan penebar nilai-nilai kebaikan untuk orang banyak.

Karena itu sosok para negarawan dengan nilai etik profetik itu sangat dipercaya dan mampu — serta mau membenahi tata kelola negara yang rusak akibat dari cara pengelolaannya yang sembrono dan ugal-ugalan.

Untuk berharap pada politisi misalnya yang kini tengah kasmaran pada Pemilu maupun Pilkada dan Pileg, jelas dan pasti tidak bisa diharapkan, karena mereka lebih sibuk memposisikan diri untuk kembali tampil dan menduduki posisi yang lebih enak dari posisi atau kedudukan sebelumnya. Paling tidak, bisa tetap panggah di posisi sebelumnya.

Hasrat dan pamrih serupa itu wajar saja menjadi pilihan dalam kondisi dan situasi yang semakin dimabuk materi dan kekuasaan, tidak sama sekali mengusung nilai-nilai illahiyah seperti tugas dan kewajiban para Nabi sebagai penyampai pesan-pesan Tuhan.

Karena itu pula, Pancasila yang menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa pada urutan pertama terkesan semakin dilupakan atau bahkan sengaja diabaikan. Harapan pada fungsi dan peranan BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila) seakan tiada berdaya tanpa asumsi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kondisi bangkrut moral bangsa — utamanya bagi mereka yang sedang berkuasa mengelola negara.

Kerunyaman ekonomi yang selalu gaduh dan kacau seperti impor bahan pangan beras yang justru membingungkan rakyat di saat musim panen, mengesankan antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian menjadi seteru Badan Urusan Logistik yang cuma berperan sebagai Kepala Gudang belaka. Hingga bibit dan pupuk bagi petani terus menjadi masalah sendiri, persis seperti kesedihan saat menjual hasil panen yang tetap dibiarkan menjadi mangsa tengkulak.

Budaya tengkulak pada tataran yang lebih bergengsi itu sekarang disebut rente, seperti menangguk komisi dari jutaan beras impor yang masuk, sangat terkesan sedang menghimpun duit untuk bekal Pemilu.

Harapan dari bilik akademisi pun untuk membenahi kerusakan tata kelola negera yang semakin parah dan sangat mengkhawatirkan ini pun sudah tak lagi bisa menjadi andalan, sebab di pusat budaya akademisi itu pun telah terbangun tradisi transaksi seperti di pasar pagi.

Itulah sebabnya semacam backing power negarawan masih mungkin berharap dari para budayawan dan seniman serta para tokoh agama yang masih relatif memiliki sisa untuk dipercaya ikut membenahi negara untuk kemudian segera memulihkan juga bangsa yang terlanjur meriang akibat didera derita bertumpuk yang tak lagi mampu untuk diidentifikasi, sebab musababnya. Apalagi kemudian ingin hendak dirinci cara penyembuhannya.

Jiwa bangsa dan negara yang sakit, tentu saja resume patologisnya tidak gampang untuk dinarasikan dalam resep yang singkat dan padat itu, misalnya sekedar untuk meredakan nyeri yang terlanjur menjalar ke sekujur tubuh.

Boleh jadi, alternatif klinisnya  harus ada bagian yang diamputasi habis dengan kerelaan yang tak bisa ditawar.

Jadi kehadiran sejumlah sosok negarawan bagi negeri yang sakit semacam menanti sejumlah perawat yang penuh suka rela, tulus dan ikhlas membasuh luka maupun borok lama yang sudah membusuk. Jika tidak segera hadir dan bertindaknya para negarawan untuk menyelamatkan negeri ini, maka  mungkin sekali dalam waktu dekat yang tersisa hanya sejarahnya saja.

Ibarat kata, GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) bersama Posko Negarawan ingin menghadirkan perawat bangsa dan perawat negara, agar kisah tragisnya yang tengah sekarat tidak sampai menjadi kenangan sejarah.

Banten, 16 Februari 2023

 

(red)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ormas Squad Macan Tutul Kudus Korwil Dawe Adakan Halal Bihalal Wujud Kebersamaan Antar Anggota

6 April 2026 - 11:36 WIB

Temu Kangen Alumni SMEA Diponegoro Juwana Angkatan 1999: “Tak Peduli Seberapa Jauh Kamu Pergi, Kami Merindukanmu di Sini”

24 Maret 2026 - 11:09 WIB

Lagi, di Bulan Penuh Berkah LSM BPPI DPD Kudus Berbagi Takjil Sasar Pelintas Jalan dan Masyarakat

15 Maret 2026 - 20:41 WIB

Wadah Advokat, DPP PATI Dipimpin Seorang Pensiunan Jenderal Polisi

13 Maret 2026 - 21:53 WIB

GRIB Jaya DPC Rembang Tegaskan Soliditas dan Satu Komando

28 Februari 2026 - 21:08 WIB

Trending di Berita