JOHOGUNUNG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM) bersama pemuda Padukuhan Druju, Desa Johogunung, mengembangkan sistem peringatan dini longsor atau Landslide Early Warning System (LEWIS). Alat berbasis mekanik sederhana ini dipasang di zona rawan longsor pada Sabtu (24/1/2026) sebagai upaya mitigasi bencana berbasis komunitas.

Berbeda dengan alat deteksi modern yang bergantung pada sensor digital kompleks, LEWIS bekerja menggunakan prinsip mekanik tuas dan benang. Sistem ini akan memutus sambungan dan memicu sirine peringatan secara otomatis saat terjadi pergeseran tanah.
Pelaksana program ini, Rohmadi, menegaskan bahwa kesederhanaan teknologi ini disengaja agar mudah diduplikasi. “Fokus utamanya adalah transfer pengetahuan terhadap rekayasa teknologi. Kami memastikan pemuda setempat mampu merakit, mengoperasikan, dan memperbaiki alat ini secara mandiri, harapannya bisa menjadi opsi dalam mitigasi bencana,” ujarnya.
Inovasi ini diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan warga Druju yang memiliki topografi berupa lereng gunung dan mengubah pola penanganan bencana dari pasif menjadi mitigasi aktif.
Sistem peringatan dini ‘Lewis’ mengadopsi mekanisme sederhana berbasis sirkuit tertutup. Alat ini memanfaatkan soket dan pin sebagai sakelar pemutus arus otomatis. Pin yang terhubung tali dikaitkan pada pasak di zona rawan pergeseran tanah.
Cara kerjanya praktis: ketika tanah bergerak, pasak akan menarik pin hingga terlepas dari soket. Lepasnya pin memicu sirkuit menjadi tertutup, sehingga arus baterai mengalir ke sirine. Bunyi keras yang dihasilkan berfungsi sebagai alarm evakuasi, memberi waktu bagi warga untuk evakuasi atau mengambil langkah Selanjutnya sistem peringatan dini ‘Lewis’ mengadopsi mekanisme sederhana berbasis sirkuit tertutup. Alat ini memanfaatkan soket dan pin sebagai sakelar pemutus arus otomatis. Pin yang terhubung tali dikaitkan pada pasak di zona rawan pergeseran tanah.
Cara kerjanya praktis: ketika tanah bergerak, pasak akan menarik pin hingga terlepas dari soket. Lepasnya pin memicu sirkuit menjadi tertutup, sehingga arus baterai mengalir ke sirine. Bunyi keras yang dihasilkan berfungsi sebagai alarm evakuasi, memberi waktu bagi warga untuk evakuasi atau mengambil langkah selanjutnya. (Suryono)








