Semarang | patrolinusantara.press – Pemantauan fenomena alam gerhana matahari parsial atau gerhana matahari total di Observatorium Planetarium Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo berhasil dilakukan pada Kamis (20/4/2023). Kegiatan pemantauan gerhana matahari dirangkai dengan sholat gerhana bersama hingga dilanjutkan dengan rukyatul hilal untuk menentukan 1 Syawal 1444H, yang hasilnya dilaporkan ke Kementerian Agama pusat. Namun dari hasil rukyatul hilal di titik pantau Planetarium UIN Walisongo Kota Semarang hilal tidak terlihat.

Koordinator Observatorium Planetarium UIN Walisongo, M. Ihtirozun Ni’am dalam keterangannya menyampaikan keberhasilan Observatorium UIN Walisongo dalam pemantauan gerhana matahari parsial, meski dalam pertengahan sedikit terhalang mendung.
“Alhamdulillah dengan semua instrumen yang telah kita siapkan, gerhana matahari berhasil kita amati dari Observatorium UIN Walisongo. Mulai dari awal sampai akhir proses gerhana, meskipun tadi di pertengahan sempat terhalang mendung juga,” ungkap dosen muda itu.
Saat disinggung mengenai adanya rumor dampak adanya gerhana matahari parsial pihaknya menyampaikan butuh adanya kajian lebih serius dengan multidisiplin keilmuan.
“Tentu ini butuh kajian lebih serius, lebih spesifik dan ditinjau dari multidisiplin keilmuan supaya sudut pandang kita jadi komprehenshif,” sambungnya.
Disamping itu Koordinator Observatorium UIN Walisongo itu juga menambahkan terkait adanya kajian yang muncul tentang gerhana matahari parsial atau gerhana matahari total.
“Sementara ini, diantara kajian yang muncul adalah tentang gerhana matahari total. Beberapa riset tentang gerhana matahari total dan dampaknya terhadap perilaku binatang dan beberapa jenis tumbuhan ternyata menunjukkan adanya pengaruh. Ini tentu sangat logis mengingat adanya perubahan intensitas cahaya yang muncul dan sampai ke Bumi sehingga berdampak pada hal-hal demikian ini,” imbuhnya.
Saat dikonfirmasi lebih lanjut terkait dengan hasil rukyatul hilal di titik planetarium UIN Walisongo, ia menyampaikan secara singkat bahwa hilal tidak terlihat.
“Hilal tidak terlihat di titik pantau Planetarium UIN Walisongo Kota Semarang,” ungkapnya.
Lebih lanjut terkait keputusan penentuan awal 1 Syawal 1444H atau Hari Raya Idul Fitri semua keputusan ada pada sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia Pusat
“Betul, pada prinsipnya, apapun hasilnya kita laporkan ke pusat,” sambung M. Ihtirozun Ni’am.
Sementara itu, menurut Ketua LDII Kota Semarang H. Suhindoyo, SE., MM., adanya perbedaan dalam penetapan 1 Syawal 1444 H adalah suatu keniscayaan dalam hidup bermasyarakat dan itu merupakan dinamika kehidupan yang harus diterima dan disikapi dengan bijak sebagaimana perbedaan-perbedaan yang lain.
Namun dirinya berharap dengan keterlibatan langsung LDII dalam Rukyatul Hilal, akan menambah kemantapan terhadap kebijakan yang diambil oleh Pemerintah dalam penetapan 1 Syawal yang selama ini diikuti oleh LDII.
“Warga LDII tunduk dan patuh terhadap Pemerintah yang sah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Menjadi instruksi DPP LDII pada jajaran LDII di seluruh pelosok tanah air maupun yang tinggal di mancanegara,” pungkasnya.








