Wajo | patrolinusantara.press – Pelayanan Air bersih dari Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Wajo mulai meresahkan masyarakat di beberapa lokasi perumahan, pasalnya beberapa hari ini warga Perumnas Atakkae Grand Hill 1,2 dan Grand Hill 3 Serta BTN Amal permai menjerit karena air bersih tidak lagi lancar mengalir ke rumah warga terkhusus yang berdomisili di wilayah atakkae dan sekitarnya.
Hal ini dikarenakan Kabupaten wajo sudah masuk kemarau, walaupun di beberapa wilayah kelurahan atau desa terkena hujan, namun debit air dari sungai walanae kurang, sehingga PDAM terpaksa mengurai jatah penyaluran air bersih ke konsumen.
Menurut pantauan awak media, kurangnya debit air di intake yang bisa dikelola oleh pihak PDAM, disinyalir karena kurangnya pengontrolan dari pihak PDAM itu sendiri, seharusnya jauh sebelum terjadi debit air berkurang harus ada persiapan mengantisipasi,apalagi menjelang lebaran Idul adha.
“Jangan dipakai sistem tiba masa tiba akal, artinya nanti pada saat terjadi baru berusaha ini kan tidak mencerminkan manajemen cerdas,” ungkap salah satu warga yang tidak ingin diungkapkan namanya.
Menurutnya, memimpin sebuah perusahaan memang tidak semudah membalikan telapak tangan, seorang pimpinan perusahaan, harus mampu menganalisa minimal 6 bulan kedepan bagaimana kelanjutan perusahaan yang dipimpinnya dan kendala apa yang akan terjadi sehingga bisa diantisipasi sedini mungkin hal yang bisa menghambat kelancaran proses produksi ungkapnya.
Dari uraian pimpinan PDAM wajo di salah satu grup whatsapp mengatakan kalau sementara bersurat ke dinas pupr Wajo untuk melakukan penggalian atau pengerukan di pinggir sungai pada tempat itake supaya debit air bisa lancar.
“Kami sudah bersurat ke PUPR kabupaten wajo, untuk melakukan penggalian atau pengerukan pinggir sungai supaya debit air bisa memenuhi stok yang selama Ini kita salurkan ke konsumen,” katanya lewat salah satu whatsapp grup.
Diolah dari berbagai sumber, PDAM Kabupaten Wajo memang tergolong perusahaan daerah yang berbasis kebutuhan masyarakat umum, mulai dari kelas yang paling bawah hingga kehidupan masyarakat yang paling tinggi, namun seringkali mengalami gangguan proses produksi, mulai dari kerusakan mesin pompa sampai kekurangan debit air, namun kendala tersebut seharusnya tidak akan terjadi apabila manajemen peka terhadap pemeliharaan (maintenance) dan pengendalian bahan baku, sehingga terkontrol semua hambatan yang bisa menghambat proses produksi.
Belum lama ini, PDAM pernah di ACC anggaran tambahan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD) yang seyogyanya tidak lagi menjadi lama penanganan setiap mengalami masalah, tapi nyatanya hanya kekurangan debit air harus melalui proses yang berhari hari, atau jangan jangan PDAM sekarang ini lagi boke alias tak punya dana.








