Madiun | patrolinusantara.press – Berbicara mengenai kondisi pendidikan di Indonesia, tentu masih terdapat berbagai permasalahan yang harus dibenahi. Mulai dari masalah sistem, kurikulum, regulasi, ketimpangan pembelajaran, distribusi guru, hingga banyak masalah lainnya.
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi, adalah problema mengenai ketimpangan akses pendidikan yang semakin hari terus mendalam. Lebih dari pada itu, akses pembelajaran melalui instrumen digital juga ikut menjadi faktor ketimpangan antara siswa di kota-kota besar dan pedesaan.
Hal ini selaras dengan hasil riset yang dilakukan oleh Smeru Institute (2020), yang menjelaskan bahwa akses terhadap teknologi menjadi penyebab ketimpangan yang telah lama terjadi semakin melebar.
Kesenjangan akses pendidikan yang disebabkan oleh kelas ekonomi penduduk, juga semakin menunjukkan bahwa murid yang menempuh pendidikan di sekolah berkualitas terutama swasta di wilayah perkotaan semakin berbanding terbalik dengan kondisi yang dialami murid-murid di pedesaan.
Untuk itu, tim Mahasiswa Membangun 1000 Desa (MMD-1000D) Universitas Brawijaya menjalankan sebuah program kerja berupa pelatihan digitalisasi sumber belajar bagi siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa Ketandan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.
Pelatihan tersebut dilakukan melalui praktik langsung, dengan mengajarkan para siswa mengenai penggunaan Microsoft Word. Walau terdengar mudah bagi sebagian kalangan, tetapi pelatihan tersebut mendapat sambutan yang sangat baik dari siswa maupun guru. Bagi banyak sekolah di pedesaan, pelatihan semacam ini sangat berguna dikarenakan ketimpangan akan akses sumber belajar yang dalam.
“Bagi sekolah-sekolah di pedesaan, pelatihan seperti ini sangat berguna. Siswa-siswa disini biasanya baru mengethaui Microsoft word ketika berada di Sekolah Menengah Atas, itu pun tidak terlalu banyak”, pungkas Mariyati selaku Kepala Sekolah SDN 01 Ketandan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.
Bagi mahasiswa sendiri, hal ini menjadi kesempatan besar untuk melaksanakan tri dharma perguruan tinggi khususnya mengenai pengabdian terhadap masyarakat. Dengan demikian, kelompok 810 MMD yang berada di bawah naungan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Ria Casmi Arrsa S.H, M.H, selaku Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, memberikan pelatihan tersebut ke beberapa sekolah di Desa Ketandan.
Dalam hal ini, kelompok 810 Mahasiswa Membangun 1000 Desa (MMD-1000D) Universitas Brawijaya memberikan pelatihan tersebut melalui tiga fase. Pertama, siswa diberikan materi mata pelajaran sesuai dengan tingkatan yang dimiliki.
Adapun mata pelajaran yang diambil adalah Bahasa Indonesia, untuk memudahkan siswa dalam mengimplementasikan capaian pembelajaran yang diraih ke dalam Microsoft Word. Kedua, mahasiswa memberikan pelatihan berupa pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dengan menjelaskan aplikasi Microsoft Word secara teknis dan teoritis. Terakhir, siswa dibiarkan untuk bereksplorasi secara bebas menggunakan Microsoft Word dengan adanya bimbingan dari mahasiwa.
Menurut penanggung jawab program kerja digitalisasi sumber belajar, Gadang Ali Syariati Pradono, dirinya menyampaikan bahwa “Pelatihan tersebut diberikan melalui tiga fase untuk memudahkan siswa dalam menyerap materi serta mempraktikan kegunaan Microsoft Word secara langsung. Siswa dalam hal ini sangat antusias untuk mengeksplorasi secara lebih lanjut akan aplikasi tersebut, dikarenakan sebelumnya mereka memang belum pernah mendapatkan pembelajaran seperti ini. Akses yang minim dalam hal ini menjadi kendala utama bagi siswa untuk memanfaatkan peran teknologi selama proses pembelajaran berlangsung”.
Oleh karena itu, program kerja tersebut sangat bermanfaat bukan hanya bagi siswa, melainkan juga sekolah sebagai tempat belajar. Harapannya, instalisasi akan sumber belajar digital dapat diberlakukan secara lebih serius bagi sekolah-sekolah di Desa Ketandan.
Di sisi lain, beberapa sekolah telah memiliki akses yang memadai untuk memanfaatkan digitalisasi sumber belajar selama proses pengajaran. Namun, pemanfaatan sumber belajar tersebut belum bisa dilakukan secara maksimal karena variasi sumber belajar yang terlalu terfokus pada cara konvensional.
“Dengan diadakannya kegiatan ini, saya berharap dapat memajukan cara pembelajaran di sekolah-sekolah Desa Ketandan dan dapat meningkatkan rasa keingintahuan siswa untuk memanfaatkan sumber belajar digital secara maksimal,” pungkas Kiram selaku koordinator kelompok 810 MMD-100D Universitas Brawijaya.
(MK)








