Kudus | patrolinusantara.press – Upacara peringatan HUT kemerdekaan Republik Indonesia oleh pemerintah kabupaten Kudus tahun ini berbeda dengan tahun yang lalu, kalau tahun lalu peserta upacara dan tamu undangan hanya mengenakan busana korp dan uniform masing masing. Untuk tahun ini, para peserta upacara dan kepala dinas mengenakan busana adat dari berbagai suku dan adat.

Bertempat di lapangan alun-alun simpang tujuh Kudus upacara peringatan HUT kemerdekaan RI dilaksanakan dan diikuti oleh siswa sekolah, berbagai instansi pemerintah, swasta dan para tokoh masyarakat serta tokoh agama, Kamis (17/8/2023).
Pada upacara itu, Bupati Kudus HM Hartopo, SH., MH., dan istrinya mengenakan baju adat Aceh, sedang kepala kepala dinas ada yang mengenakan baju adat Bali, Bugis, Minangkabau, Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur.
Ketika ditanya oleh awak media kenapa sebagian peserta upacara mengenakan baju adat, Hartopo menjawab, pengenaan baju adat yang dilakukan oleh pihaknya dan kepala dinas serta pimpinan DPRD tersebut merupakan bagian tampilan wajah nusantara yang berbeda beda namun tetap sama di bawah panji sang saka Merah Putih.
“Kita walaupun berbeda beda tapi tetap satu, beda pakaian, budaya, bahasa tapi tetap satu karena kebhinekaan,” ujar Hartopo.
Hartopo juga menambahkan, kenapa tahun kemarin tidak memakai baju adat dan sekarang pakai baju adat. Itu dilakukannya karena melihat Presiden Joko Widodo rasa nasionalismenya luar biasa, sehingga pihaknya mengikuti.
“Tahun kemarin tidak pakai baju adat, karena melihat pak Presiden rasa nasionalismenya luar biasa, kita harus mengikuti imam kita,” tambah Hartopo.
Pada acara peringatan HUT kemerdekaan RI tersebut Hartopo juga sempat menyinggung masalah pertanian, menurutnya secara spesifik pertanian di Kudus masih perlu perhatian karena masih ada ancaman.
Disebutkannya, ancaman di sektor pertanian diantaranya ada banjir, oleh karenanya pihak Pemda masih mengupayakan jalan keluar untuk mengatasi banjir, sebab kalau hanya mengandalkan kekuatan keuangan daerah dirasa tidak mampu.
“Untuk itu kami perlu dukungan dari provinsi dan pusat, karena kalau mengandalkan keuangan APBD jelas tidak bisa mencukupi,” tutur Hartopo
Hartopo juga mengatakan, memang masih ada lahan pertanian di Kudus yang kekeringan saat musim kemarau, oleh karenanya perlu ada waduk dan embung sebagai tempat penyimpanan air yang bisa di alirkan saat musim kemarau ke sawah-sawah yang dilanda kekeringan.
(wkn)








