Menu

Mode Gelap
Makorem Wijayakusuma Diserbu Anak TK, Ingin Dekat Dengan TNI nya

Berita

Tradisi Sedekah Bumi dan Pertunjukan Seni Ketoprak di Desa Bumiayu Kecamatan Wedarijaksa / Pati

badge-check


					Tradisi Sedekah Bumi dan Pertunjukan Seni Ketoprak di Desa Bumiayu Kecamatan Wedarijaksa / Pati Perbesar

Pati – Sedekah bumi adalah suatu upacara adat yang melambangkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi. Upacara ini sebenarnya sangat Populer di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Begitu pula halnya masyarakat Desa Bumiayu  salah satu desa yang terletak di kecamatan wedarijaksa, kabupaten Pati sudah sedari dulu melestarikan salah satu kearifan lokal ini.

Waktu pelaksanaan Sedekah Bumi di Desa Bumiayu ditentukan oleh hasil Keputusan musyawarah pimpinan adat setempat yaitu Pada bulan Apit (Tanggalan Jawa), pada tahun 2025 ini rangkaian Sedekah Bumi mulai dilaksanakan pada Rabu tanggal 30 April 2025. Tradisi ini dilaksanakan di Balai Desa Bumiayu.

Jasa Pembuatan website Media berita

Sebelumnya  upacara adat dilaksanakan, diadakan acara pembacaan doa dan tahlil bersama yang dihadiri warga masyarakat setempat. Setelah itu para warga kemudian berduyun-duyun berkumpul dengan membawa aneka hidangan biasanya berupa nasi dengan beberapa lauk pauknya. sesuai selera. Melengkapi hidangan tersebut ada beberapa jajanan khas yang selalu ada saat Sedekah Bumi seperti, rengginang, tape beras, kue kucur, pisang dan Bugisan. Hidangan ini kemudian dikumpulkan untuk dibacakan do’a oleh Modin Desa kemudian saling ditukar dan dibagikan sesama warga yang hadir.

Tradisi Sedekah Bumi yang digelar di Balai Desa Bumiayu  menghadirkan pertunjukan seni Sandiworo Ketoprak Cahyo Mudho dari Juwana.  ketoprak : sandiwara tradisional Jawa, biasanya memainkan cerita lama dengan iringan musik gamelan, disertai tari – tarian dan tembang.

Tradisi Sedekah bumi ini merupakan bukti bahwa budaya jawa dan ajaran islam dapat berjalan beriringan tanpa menghilangkan salah satu dari keduanya. Tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan, ungkapan rasa syukur serta kepedulian terhadap lingkungan. Tradisi ini juga dapat menjadi ladang rejeki bagi para pedagang kaki lima. Dimana mereka semua bisa berjualan di sekitar tempat pertunjukan.

Namun di era yang begitu modern ini gempuran budaya asing sangat luar biasa, menghadirkan tantangan tersendiri bagi masyarakat desa untuk dapat melestarikan tradisi ini. Diharapkan usaha bersama dari masyarakat lokal, pemerintah, dan semua pihak yang terlibat, tradisi ini akan terus hidup dan lestari sampai generasi masa depan.

 

 

( Wawan )

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Menggelar Aksi Demonstrasi Di Depan Polresta Pati

13 Mei 2026 - 17:37 WIB

*Raih Skor 243, Nabila Nur’Aini Sabet Juara 2 Pencak Silat Kabupaten Rembang*

13 Mei 2026 - 11:44 WIB

Galian C Ilegal di Mojoagung, Pati, Kembali Beroperasi; Aparat Kepolisian Diminta Jangan Tutup Mata

12 Mei 2026 - 21:50 WIB

Konstituen Dewan Pers Kawal Kinerja Kasatlantas, Sinergi Media dan Polri Perkuat Transparansi Publik

9 Mei 2026 - 01:11 WIB

UU Kebiri Kimia Bagi Predator Perempuan dan Anak, Ketum RPPAI Desak Polresta Pati Catat Sejarah Penegakan Hukum

9 Mei 2026 - 01:03 WIB

Trending di Berita