PATI, 26 Juni 2026 – Ribuan warga memadati Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Jumat (26/6/2026) untuk menyaksikan pelaksanaan kirab budaya dalam rangka Haul Syekh Ahmad Mutamakkin. Perayaan tahunan ini menjadi momen yang sarat nilai tradisi, kesakralan, dan upaya pelestarian warisan budaya yang terus dijaga secara turun-temurun.
Sepanjang rute perjalanan, suasana terasa meriah meski di bawah terik matahari. Rangkaian pertunjukan dimulai dengan dentuman irama dari kelompok marching band, diikuti keindahan gerak tari dan busana para penampil, hingga kemegahan “Kereta Kencana” berornamen naga raksasa. Iringan musik tradisional khas daerah, yaitu tongklek, turut mengiringi perjalanan rombongan dan menambah kekhususan acara tersebut.
Tokoh Pemuda Desa Kajen sekaligus bagian dari panitia, Ulil Amri atau akrab disapa Cak Ulil, menjelaskan bahwa haul ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan momen kerinduan dan kebersamaan yang selalu dinanti masyarakat.
“Dari pihak yayasan ada rangkaian kegiatan keagamaan seperti khataman Al-Qur’an secara binnadhor maupun bilghaib, serta tradisi buka selambu. Sementara dari pihak desa, puncak acaranya adalah kirab budaya ini,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kecamatan Margoyoso.
Kirab tahun ini diikuti oleh 13 kelompok tongklek dari berbagai lingkungan di desa. Cak Ulil menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan berharap tradisi ini terus terjaga.
“Semoga setiap tahun kita tetap menampilkan budaya asli Nusantara ini agar tidak luntur dan tetap bisa diwariskan ke generasi berikutnya,” harapnya.
Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa antusiasme penonton tidak hanya datang dari warga setempat. Banyak alumni pondok pesantren di Kajen yang kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia, sengaja pulang kampung demi menghadiri acara ini.
“Lewat momentum haul ini, masyarakat dan para alumni bisa kembali meneladani ajaran ilmu serta menjaga marwah para guru dan leluhur kita,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Desa Kajen, Syamsul Bakri, menjelaskan susunan kegiatan yang disiapkan panitia. Selain kirab budaya, juga diadakan lomba untuk ibu-ibu PKK dan panjat pinang sebagai pelengkap acara. Namun, nilai sakral tetap diutamakan pada rangkaian karnaval budayanya.
Karnaval ini diikuti oleh 22 kelompok peserta yang berasal dari 13 Rukun Tetangga, pondok pesantren, serta lembaga pendidikan yang ada di Desa Kajen. Penggunaan alat musik tongklek menjadi ciri khas utama yang membedakan acara ini dengan perayaan serupa di daerah lain.
“Kita sengaja menggunakan tongklek agar memiliki identitas sendiri. Ini rangkaian haul Mbah Ahmad Mutamakkin, bukan acara sedekah bumi, jadi temanya harus selaras dengan makna haul itu sendiri,” tegas Syamsul.
Guna menjaga kekhidmatan dan keharmonisan antarwarga, panitia memutuskan tidak mengadakan sistem penilaian atau perlombaan dalam kirab tersebut.
“Tidak ada lomba. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya gesekan antarwarga serta menjaga sportivitas dan kesakralan acara,” jelasnya.
Panitia juga berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi usai acara, guna memastikan pelaksanaan Haul Syekh Ahmad Mutamakkin pada tahun mendatang dapat berjalan lebih tertata, meriah, dan tetap menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
( Yono )









