Menu

Mode Gelap
Makorem Wijayakusuma Diserbu Anak TK, Ingin Dekat Dengan TNI nya

Berita

Bupati Pati Non Aktif Sudewo Ajukan Eksepsi, Persoalkan Penggabungan Dua Perkara Berbeda

badge-check

Bupati Pati Non Aktif Sudewo Ajukan Eksepsi, Persoalkan Penggabungan Dua Perkara Berbeda Perbesar

SEMARANG – Bupati Pati yang sedang tidak aktif, Sudewo, menjalani sidang eksepsi atas dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, pada hari Senin (22/6).

Sidang tersebut berfokus pada pembacaan nota perlawanan yang disusun tim kuasa hukum Sudewo, yang dibacakan secara bergantian oleh Aviv Dihan Kuntoro dan Indra Perbawa. Dokumen setebal 22 halaman itu mempersoalkan dasar hukum penyusunan surat dakwaan yang menggabungkan dua dugaan tindak pidana yang berbeda.

Jasa Pembuatan website Media berita

Dua perkara yang digabungkan itu adalah dugaan penerimaan suap terkait proyek di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) saat Sudewo menjabat Anggota DPR RI periode 2019–2024, serta dugaan suap dalam proses pengisian perangkat desa di Kabupaten Pati saat ia menjabat Bupati Pati periode 2025–2030.

Menurut kuasa hukum Sudewo, Aviv Dihan Kuntoro, penggabungan tersebut tidak memenuhi ketentuan Pasal 72 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Alasannya, kedua perkara memiliki tempat kejadian perkara, jabatan yang diemban, saksi, hingga alat bukti yang berbeda satu sama lain.

“Kami tidak membahas pokok perkara atau menilai bersalah tidaknya klien. Yang kami uji adalah keabsahan penggabungan dua dakwaan yang lahir dari kapasitas hukum berbeda dan tidak seharusnya dipaksakan menjadi satu,” ujar Aviv usai sidang, Senin (22/6).

Tim pembela menilai penggabungan perkara berpotensi mengaburkan jalannya pemeriksaan dan merugikan hak pembelaan terdakwa. Hal ini dapat menimbulkan prasangka seolah dua peristiwa itu saling berkaitan, padahal keduanya berdiri sendiri secara hukum.

“KUHAP mensyaratkan perkara digabungkan jika memiliki keterkaitan atau demi kepentingan pemeriksaan. Syarat itu tidak terpenuhi dalam kasus ini, sehingga surat dakwaan dinilai mengandung cacat formal,” tegasnya.

Selain itu, tim hukum juga menyoroti ketidaklengkapan berkas perkara terkait kasus DJKA. Tercatat ada empat nama saksi yang tercantum dalam daftar, namun Berita Acara Pemeriksaan (BAP) mereka tidak ditemukan dalam berkas perkara. Hal ini dinilai semakin memperkuat alasan bahwa surat dakwaan memiliki kekurangan secara prosedural.

Dalam tuntutan akhir atau petitum, tim advokat meminta majelis hakim menerima dan mengabulkan seluruh isi nota perlawanan. Mereka memutuskan agar surat dakwaan Nomor 57/TUT.01.04/24/06/2026 tertanggal 2 Juni 2026 dinyatakan tidak memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.

Sebelumnya, pada sidang perdana pekan lalu, JPU telah membacakan dakwaan yang menyebutkan dugaan praktik jual beli jabatan perangkat desa dan penerimaan suap proyek DJKA. Sidang tersebut juga dihadiri sejumlah pendukung yang menyatakan bahwa perkara ini merupakan bentuk kriminalisasi terhadap Sudewo.

( Tim investigasi )

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Tingkatkan Keamanan, Lapas Kelas IIB Pati Gelar Razia Gabungan dan Tes Urine

23 September 2026 - 12:37 WIB

Kurang 500 Baglog Jamur, Pembeli Rembang Jauh-jauh ke Gembong Tak Temui Pihak Terkait

23 September 2026 - 07:11 WIB

Warga Dukuh Gadungan Pertanyakan Kas Makam, Musyawarah di Kantor Desa Sejomulyo Berakhir Serah Terima Aset Rp23 Juta

22 September 2026 - 20:42 WIB

Sinergi Tiga Pilar: 20 Tangki Air Bersih Diberangkatkan dari Mapolresta Pati Bantu Warga Terdampak Kekeringan

21 September 2026 - 21:58 WIB

Lapas Kelas IIB Pati Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba Bersama DPD GERAM untuk Warga Binaan

21 September 2026 - 19:51 WIB

Trending di Berita