Menu

Mode Gelap
Makorem Wijayakusuma Diserbu Anak TK, Ingin Dekat Dengan TNI nya

Berita

Jangan Melupakan Sejarah : Pengkhianatan PKI Kepada NKRI

badge-check


					Sekretaris PW Persatuan Islam Provinsi Sumatera Utara, Abdul Azis Perbesar

Sekretaris PW Persatuan Islam Provinsi Sumatera Utara, Abdul Azis

Medan | patrolinusantara.press – Dor…! Dor…! Dor…! Tubuh Nikolai A. Voznesensky terkulai. Dia dieksekusi oleh regu tembak satu jam setelah pengumuman  putusan yang dibacakan di balik pintu tertutup pada dinihari 1 Oktober 1950.

Pengadilan rahasia Rusia menjatuhinya hukuman mati atas tuduhan pengkhianatan. 

Jasa Pembuatan website Media berita

Jasadnya bersama-sama puluhan petinggi Partai Komunis yang dieksekusi hari itu, dikubur di Gurun Levashovskoy, dekat Leningrad. 

Enam orang temannya mati selama proses interogasi. Dua ratus lagi, dari pejabat Leningrad,  dijatuhi hukuman penjara 10 hingga 25 tahun. 

Voznesensky bukanlah orang sembarangan, dia anak didik Andrei Zhdanov ini dipandang banyak orang sosok yang sedang dipersiapkan Joseph Stalin untuk menduduki puncak pemerintahan. Anggota Politbiro ke – 18 Partai Komunis Uni Soviet, dipercaya menjadi Chairman Komite Perencanaan  Negara (Gosplan),  lembaga yang bertanggung jawab  untuk perencanaan ekonomi pusat di Uni Soviet,  hingga dua tahun sebelum di dor. Di usia 38 tahun, pada 1940, ia juga menduduki Wakil Perdana Menteri. 

Stalin dan pemerintahan komunis Uni Soviet membangun satu sistem teror yang tidak seorang individu pun aman, bahkan di antara kamerad-kamerad terdekat Stalin.

Kejahatan semacam itu bukan monopoli Stalin. Para pemimpin komunis di mana pun melakukannya. Sepanjang sejarah manusia,  tragedi kemanusiaan yang paling dahsyat dan tiada bandingannya adalah yang dilakukan komunis. 

Taufik Ismail (2004) memaparkan angka pembantaian manusia di dunia oleh komunis dalam selang waktu 74 tahun, sejak Revolusi Bolshevik 1917 hingga hancurnya komunis dunia tahun 1992.

Lenin membantai 500 ribu rakyat Rusia sepanjang 1917-1923. Stalin membantai 46 juta rakyat Rusia, termasuk di dalamnya 6 juta petani kulak kurun 1925-1953.

Sementara, Mao Zedong menjagal 50 juta penduduk  RRC dalam kurun 1947-1976.

Pol Pot membunuh 2,5 juta rakyat Kamboja. 

Najibullah mencabut 1,5 juta nyawa rakyat Afghanistan sepanjang 1978-1987.

Seratus juta jiwa melayang selama 74 tahun,  artinya 1,35 juta jiwa dalam setahun,  atau 3.702 jiwa perhari 154 jiwa setiap jam atau tiap menit ada 2,5 orang mati di tangan Komunis! 

Komunis itu sadis dan kejam, nafsu berkuasa  mereka sangat luar biasa. Mereka menghalalkan segala cara.

Dia akan menyingkirkan kekuatan-kekuatan politik lain, menghapus pemilihan umum bebas dan memasang aparat kontrol totaliter terhadap masyarakat, menindas segala perlawanan. 

Apa yang dilakukan oleh Stalin terhadap Voznesensky dan kawan-kawan, termasuk menghabisi 37 ribu perwira Tinggi Angkatan Darat, 3 ribu perwira  Angkatan Laut, memecat lebih 2 ribu komandan militer, adalah dalam rangka pembersihan lawan politik.

Caranya sederhana : tuduh mereka sebagai “musuh rakyat” atau pengkhianat tak perlu pembuktian kebenaran, karena pengadilan sepenuhnya ada dalam kontrol pemerintah. 

Memutarbalikkan fakta dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain serta memanfaatkan situasi apa pun untuk kepentingan kekuasaan adalah keahlian yang dimiliki orang komunis.

Komunisme itu paham, bukan organisasi  dan bukan nasab. Orang bisa menjadi komunis tanpa harus terdaftar sebagai anggota organisasi  seperti PKI. 

Bukan pula menjadi komunis  karena dari keturunan, jangan salah sangka, orang berideologi komunis bisa  berada  di organisasi apa saja, partai apa saja.

“Dik Gaffar, kamu ajari saya agama, nanti kamu saya ajari marxisme, ” kata Soekarno satu ketika. 

Yang dipanggil Dik Gaffar adalah A. Gaffar Ismail,  ayah dari Taufik Ismail dokter hewan namun lebih dikenal sebagai penyair. 

Sebagai sosok yang begitu menghargai ilmu,  pikiran Soekarno memang lebih dahulu dipenuhi oleh ajaran Karl Marx,  “nabi” nya orang-orang sosialis-komunis. Dia bangga menguasai marxisme  sehingga berani menawarkan barter dengan pengajaran ilmu-ilmu Islam. 

Boleh jadi Soekarno memandang Islam sebagai sebuah cabang ilmu yang setara dengan marxisme. 

Soekarno memang rajin bertanya soal keislaman  kepada  Gaffar dan Tuan Guru Hasan Bandung- pun tetap sebagai sosok nasionalis  sekuler,  memimpin Partai Nasionalis Indonesia (PNI). 

Pemikirannya tentang keislaman dan sosial kemasyarakatan  tidak lepas dalam perspektif  sekuler sehingga tulisan-tulisannya sering mengundang tanggapan kritis aktivis Islam. Salah satunya dari Mohammad  Natsir,  tokoh Partai  Masyumi sekaligus murid Hasan Bandung ( A. Hassan).

Dalam periode selanjutnya ketika menjadi presiden, Soekarno menggabungkan ideologi  nasionalisme, agama, dan komunisme dikenal dengan NASAKOM. 

karena menolak ideologi campuran ini, atas desakan PKI, Masyumi diultimatum agar dibubarkan oleh Presiden Soekarno. 

Bagaimana dengan Gaffar? Meskipun di-coach langsung oleh mentor besar marxisme, Soekarno,  Gaffar tidak lantas jadi komunis. Tidak ikut Soekarno di PNI. Ia justru aktif di Masyumi  yang anti komunis. Sebab sikap dan pandangan hidupnya dibentuk oleh Islam terlebih dahulu.  Putra Minangkabau ini tamatan Sumatra Thawalib Parabek dan pernah nyantri di Padang Panjang. 

Musuh Utama Komunis

Jauh sebelum peristiwa Gerakan 30 September 1965, umat Islam telah mencium gelagat petaka buruk  yang bakal ditimbulkan Partai Komunis  Indonesia.  Sebagai langkah antisipasi, digelarlah Kongres Ulama pada 8-11 September 1957 di Palembang. Keputusan Kongres terpenting adalah mengharamkan ideologi komunis serta mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit pelarangan  PKI dan semua mantel organisasinya.

Sayangnya suara ulama diabaikan, alih-alih mengeluarkan dekrit, Soekarno justru merangkul PKI ke dalam pemerintah,  membangun ideologi, (Dr. Masri Sitanggang  Bertarung Mempertahankan  Agama dan Bangsa).

Demikian pemaparan Abdul Aziz Sekretaris PW. Persatuan Islam Sumut, Minggu (3/9/2023) kepada awak media ini.

Komunisme dilarang di Indonesia karena adanya

TAP MPRS Nomor XXV tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, pernyataan sebagai Organisasi terlarang di seluruh Wilayah negara Republik Indonesia, larangan menyebarkan atau mengembangkan paham atau ajaran Komunis, Marxisme-Leninisme.

Konsiderans TAP MPRS NO. XXV/MPRS/1966

  1. Bahwa faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme  pada hakekatnya bertentangan dengan Pancasila. 
  2. Bahwa orang-orang  dan golongan-golongan  di Indonesia  yang mengenal  faham atau ajaran Komunisme /Marxisme -Leninisme khususnya Partai Komunis Indonesia, dalam sejarah Kemerdekaan Republik  Indonesia telah nyata-nyata terbukti beberapa kali berusaha merobohkan kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia yang sah dengan cara kekerasan. 
  3. Bahwa berhubung  dengan itu, perlu mengambil tindakan tegas terhadap Partai Komunis Indonesia dan terhadap kegiatan-kegiatan yang menyebabkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme /Marxisme – Leninisme. 

Makna Pengakuan Negara Atas Pelanggaran  HAM Berat Masa Lalu di Indonesia Harus dimaknakan sebagaimana mestinya:

Pertama, Pengakuan Presiden  RI atas terjadinya pelanggaran-pelanggaran HAM yang berat pada masa lalu, bukan permohonan maaf kepada PKI dan bukan menggantikan penyelesaian  mekanisme Yudisial. 

Kedua, Langkah optimal mengungkap kebenaran dan pemulihan hak-hak korban menggunakan  pendekatan korban dengan memperhatikan akses  keadilan korban kelompok rentan. 

Ketiga,  Pelibatan masyarakat sipil dalam pendataan dan reparasi korban, disampaikan Dr. Eka N. A. M Sihombing dan Majda El Muhtaj pada Mukerda III MUI Kota Medan, 31 Agustus 2023.

Sejak Indonesia merdeka  17 Agustus 1945, bangsa Indonesia  selalu diganggu oleh pihak asing, dan komunisme.

Setelah kemerdekaan Indonesia, sudah dua kali  PKI melakukan  pemberontakan. 

Pertama, peristiwa pemberontakan PKI di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948, yang dikenal dengan peristiwa  pemberontakan Madiun, setelah 3 tahun proklamasi kemerdekaan  RI. 

Kedua pemberontakan  G. 30 S PKI tahun 1965

“Mari kita kembali mengingat peristiwa berdarah atas pembantaian pahlawan revolusi yang menjadi korban kekejaman Bulan September tahun 1965 silam, serta waspada terhadap kemunculan PKI gaya baru di Indonesia,” pungkasnya.

 

(S.Hadi Purba/AZ)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Satreskrim Polsek Todanan Bongkar Sindikat Curanmor Lintas Wilayah, Manfaatkan Keramaian Konser Dangdut

19 Juni 2026 - 09:21 WIB

Ungkap Kasus Curat Trafo Kapal 2023, Satpolairud Polresta Pati Tangkap Satu Lagi Pelaku di Jakenan

18 Juni 2026 - 12:02 WIB

Pemimpin Harus Dekat Rakyat, Utamakan Akhlak dan Persatuan

18 Juni 2026 - 11:11 WIB

SMSI Eks Karesidenan Pati Ingatkan Pentingnya Profesionalisme Pers dan Akses Alat Kerja Wartawan

18 Juni 2026 - 10:43 WIB

Lapas Kelas IIB Pati Gelar Upacara Kesadaran Berbangsa dan Bernegara untuk 345 Warga Binaan

17 Juni 2026 - 16:28 WIB

Trending di Berita